Senin, 20 September 2010
"PIDATO BUNG KARNO"
“Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaraja adalah paman ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti, Tuan. Bapak adalah keturunan Sultan Kediri..."
“HIDUP DAN PERJUANGAN”
“HIDUP DAN PERJUANGAN”
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya!”
Satu ungkapan bijak, yang sering kita dengar dan kita dengungkan. Sangat besar memang jasa yang dikorbankan para pahlawan. Pengorbanan harta, waktu, tanaga, bahkan nyawa, yang mereka berikan pun tak ternilai harganya. Namun, tak sejauh itu yang mereka pikir, tiada materi sebagai tujuan utama yang mereka kejar. Hanya satu pilihan yang selalu mereka kejar. “MERDEKA atau MATI!”
Ingin rasanya mengangkat berbagai kisah, pengalaman, atau pengorbanan yang telah mereka berikan untuk bumi pertiwi ini. Bangga kiranya kita dapat menggali, menyusun kembali mozaik-mozaik perjuangan yang mereka berikan dengan ceceran air mata dan darah. Hingga bisa menjadi tetesan penggugah anak bangsa dalam buaian mimpi, dalam balutan kebahagiaan semu yang ditawarkan duani masa kini.
Terlalu jauh mungkin harapan ini muncul. Sia-sia mungkin keinginan mendorong semua anak bangsa kembali bangkit. Tapi ini hanyalah satu butiran debu yang bisa, setidaknya bagi diri sendiri untuk menghayati dan mengerti arti sebuah “PERJUANGAN.”
“Jalani dan nikmatilah hidup. Semua perlu perjuangan!”
“BERDIKARI”
“BERDIKARI”
‘Berdikari.’ Mungkin tidak asing lagi kita mengenal istilah itu. Ya... itu memang salah satu ideologi pembangunan ‘berdiri di atas kaki sendiri’ yang dianut oleh Bung Karno di masa pemerintahannya dulu. Siapa yang berani menentang Amerika Serikat? Siapa yang berani menolak negara adikuasa?
Soekarno-lah, salah satu tokoh yang gagahnya menentang, bahkan mengejek atas tawaran pemberian bantuan dari Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis lainnya. “Go to hell with your aid.”
“Persetan dengan bantuanmu.” Seperti itulah (mungkin) peng-Indonesia-an umpatan Bung Karno tersebut. Memang, pada akhirnya Bung Karno cenderung lebih ‘condong’ ke Blok Timur (Komunis) yang dikendalikan Uni Soviet dan RRC.
Ia memang belum berhasil dalam bidang pembangunan ekonomi untuk membawa rakyatnya dalam kehidupan sejahtera, adil makmur. Namun, berkat perannya pulalah semangat revolusi bagi bangsanya yang bisa menjaga keutuhan NKRI, terus bergelora.
Ideologi pembangunan yang dianut pria yang berasal dari keturunan bangsawan Jawa dan suku Bali ini sedikit banyak menganut ideologi pembangunan yang dilahirkan kaum ekonom “merah.” Bagi kaum “merah,’ tidak ada istilah membangun suatu negeri melalui dengan ‘mengemis’ bantuan pihak asing. Bersentuhan dengan negara Barat yang kaya, apalagi sampai meminta bantuan, justru mencelakakan si melarat (negara miskin).
Pandangan Bung Karno, yang ketika kecil bernama Kusno, tampaknya tak ada kisah manis bagi negara-negara miskin yang membangun dengan modal asing dan bantuan Barat. Semua tetek bengekmanajemen pembangunan yang diperbantukan dan arus teknologi modern yang dialihkan --agar si miskin jadi kaya dan mengejar Barat-- hanyalah alat pengisap kekayaan si miskin yang membuatnya makin terbelakang.
Itulah Bung Karno yang berhasil menggelorakan semangat revolusi dan mengajak berdiri di atas kaki sendiri bagi bangsanya, tapi belum berhasil membawa rakyatnya dalam kehidupan sejahtera.
Masa kecil Bung Karno memang sudah diisi semangat kemandirian. Ia hanya beberapa tahun hidup bersama orang tua di Blitar. Semasa SD hingga tamat, ia tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjut di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu ia pun telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, ia pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.
Kemudian, ia merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, si penjajah, menjebloskannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, dengan gagah berani ia menelanjangi kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.
Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Selelah bebas (1931), Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, ia kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik sangat hebat. Ia pun tak mau membubarkan PKI yang dituduh oleh mahasiswa dan TNI sebagai dalang kekejaman membunuh para jenderal itu. Suasana politik makin kacau. Sehingga pada 11 Maret 1966 ia mengeluarkan surat perintah kepada Soeharto untuk mengendalikan situasi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Supersemar. Tapi, inilah awal kejatuhannya. Sebab Soeharto menggunakan Supersemar itu membubarkan PKI dan merebut simpati para politisi dan mahasiswa. MPR mengukuhkan Supersemar itu dan menolak pertanggungjawaban Soekarno serta mengangkat Soeharto sebgai Pejabat Presiden.
Kemudian Bung Karno ‘dipenjarakan’ di Wisma Yaso, Jakarta. Kesehatannya terus memburuk. Akhirnya, pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Paduka Yang Mulia Pemimpin Revolusi ini meninggalkan 8 orang anak. Dari Fatmawati; Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari Hartini: Taufan dan Bayu, dan dari Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto; Kartika.
Bung Karno Dalang G30S/PKI?
Baru-baru ini, Antonie Dake merilis buku karyanya yang dipandang banyak pihak mendiskreditkan peran Soekarno dan memutarbalikkan fakta sejarah masa itu. Buku itu berjudul Sukarno: Berkas-berkas Soekarno 1965 – 1967. Boleh jadi, buku tersebut memberi sensasi yang tak kalah ramainya dari gosip selebritis atau isu reshuffle di pemerintahan.
Berbeda dari jaman orde baru dulu, dalam era reformasi seperti ini, praktis setiap orang bebas dan berhak untuk menyatakan pendapat atau menerbitkan buku tanpa ada upaya untuk menghambat atau menghalangi atas kepentingan tertentu, sehingga kedewasaan sikap dan kejernihan berpikir kita benar-benar dituntut agar tidak berujung pada dendam atau permusuhan.
Pada acara peluncuran bukunya, secara gamblang Dake berpendapat bahwa Soekarno adalah mastermind kudeta 1 Oktober 1965. Dake juga menyebutkan bahwa Central Intelligent Agency (CIA) maupun Mayjen Soeharto kala itu, tidak memiliki keterkaitan yang kuat. Pernyataan tersebut langsung mendapat respon keras dari Sukmawati Soekaroputri, yang juga ketua Partai Nasional Indonesia Marhaen, Red Banteng.
Dake adalah seorang akademisi dari Belanda yang memperoleh gelar PhD di bidang ilmu politik di Universitas Freire, Berlin. Ia pernah menjadi wartawan dan CEO pada perusahaan media massa. Dake secara kebetulan juga pernah menulis buku In the Spirit of the Red Banteng: Indonesia Communism between Moscow and Peking yang merupakan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor. Sayang, buku tersebut dilarang beredar di Indonesia.
Salah seorang teman yang telah membaca buku ini mengeluh karena isinya sama sekali tidak ilmiah. Ia justru mempertanyakan kapasitas keprofessoran yang diperoleh Dake dari pendidikan di barat. Tesis Dake memang sangat argumentatif, apalagi bukti-bukti sejarah yang mendukung masih merupakan ”dokumen tertutup”. Kita mungkin juga ingat sekitar awal tahun 1990an sempat terbongkar bahwa CIA mempunyai banyak wartawan dan penulis dalam “daftar gajinya”, yang menulis menurut dan sesuai dengan pengarahannya. Memang segalanya serba mungkin, apalagi sehubungan dengan badan intel ini.
Memang saya tidak bisa banyak bercerita tentang pemerintahan Soekarno. Akan tetapi, mengenai kemungkinan keterlibatan Bung Karno terhadap G30S/PKI saya mungkin bisa menjawab: bisa-bisa saja. Tidak tertutup kemungkinan untuk itu. Analogi tentang pengingkaran Bung Karno terhadap G30S/PKI sebenarnya sama saja dengan pengingkaran Pak Harto terhadap insiden 13 Mei. Pengalihan tanggung jawab 13 Mei disebabkan oleh ketidakadilan sosial dalam ras sebagai kambing hitam.
Sukmawati, yang juga hadir pada acara launching buku tersebut, menolak tesis Dake dengan alasan tidak logis karena Soekarno justru jatuh akibat G30S/PKI, seperti halnya Soeharto yang jatuh akibat Mei 1998. Namun, bisa juga diambil analogi bahwa kejatuhan Soeharto adalah konsekuensi skenario yang gagal dalam represi untuk menangkap mahasiswa dan tokoh oposisi seperti ingin mengulang Malari 74. Sayangnya (atau untungnya?) mahasiswa bukannya turun ke jalan melainkan justru menduduki Gedung MPR/DPR. Sesuatu yang mungkin jauh dari prediksi Pak Harto kala itu.
Saya juga pernah berjumpa dengan Pak Harto, walau tidak secara personal. Memang terlihat bahwa beliau adalah orang yang relatif baik, terlepas dari sikap politisnya yang banyak mengundang kritik. Saya rasa, Bung Karno pun juga demikian. Beliau tetap merupakan proklamator bangsa, pahlawan besar dengan kepribadian kuat dan sikap yang perlu diteladani. You all had my respects.
Saat ini saya masih menunggu kiriman buku itu dan belum membacanya. Tapi, apapun isi tulisan tersebut, seharusnya tidak perlu diperpanjang lagi kecuali sekedar sebagai bahan referensi saja. Kondisi negeri ini sudah cukup ricuh dan semrawut. Seharusnya kaum intelek seperti Dake mampu menghadirkan ketenangan dan mempercepat proses pemulihan bangsa ini, bukannya memperkeruh suasana sehingga menimbulkan gonjang-ganjing di dunia persilatan ini. Padahal, nyaris tidak ada dampak konkrit yang secara langsung dapat dinikmati oleh rakyat jelata.
Berbeda dari jaman orde baru dulu, dalam era reformasi seperti ini, praktis setiap orang bebas dan berhak untuk menyatakan pendapat atau menerbitkan buku tanpa ada upaya untuk menghambat atau menghalangi atas kepentingan tertentu, sehingga kedewasaan sikap dan kejernihan berpikir kita benar-benar dituntut agar tidak berujung pada dendam atau permusuhan.
Pada acara peluncuran bukunya, secara gamblang Dake berpendapat bahwa Soekarno adalah mastermind kudeta 1 Oktober 1965. Dake juga menyebutkan bahwa Central Intelligent Agency (CIA) maupun Mayjen Soeharto kala itu, tidak memiliki keterkaitan yang kuat. Pernyataan tersebut langsung mendapat respon keras dari Sukmawati Soekaroputri, yang juga ketua Partai Nasional Indonesia Marhaen, Red Banteng.
Dake adalah seorang akademisi dari Belanda yang memperoleh gelar PhD di bidang ilmu politik di Universitas Freire, Berlin. Ia pernah menjadi wartawan dan CEO pada perusahaan media massa. Dake secara kebetulan juga pernah menulis buku In the Spirit of the Red Banteng: Indonesia Communism between Moscow and Peking yang merupakan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor. Sayang, buku tersebut dilarang beredar di Indonesia.
Salah seorang teman yang telah membaca buku ini mengeluh karena isinya sama sekali tidak ilmiah. Ia justru mempertanyakan kapasitas keprofessoran yang diperoleh Dake dari pendidikan di barat. Tesis Dake memang sangat argumentatif, apalagi bukti-bukti sejarah yang mendukung masih merupakan ”dokumen tertutup”. Kita mungkin juga ingat sekitar awal tahun 1990an sempat terbongkar bahwa CIA mempunyai banyak wartawan dan penulis dalam “daftar gajinya”, yang menulis menurut dan sesuai dengan pengarahannya. Memang segalanya serba mungkin, apalagi sehubungan dengan badan intel ini.
Memang saya tidak bisa banyak bercerita tentang pemerintahan Soekarno. Akan tetapi, mengenai kemungkinan keterlibatan Bung Karno terhadap G30S/PKI saya mungkin bisa menjawab: bisa-bisa saja. Tidak tertutup kemungkinan untuk itu. Analogi tentang pengingkaran Bung Karno terhadap G30S/PKI sebenarnya sama saja dengan pengingkaran Pak Harto terhadap insiden 13 Mei. Pengalihan tanggung jawab 13 Mei disebabkan oleh ketidakadilan sosial dalam ras sebagai kambing hitam.
Sukmawati, yang juga hadir pada acara launching buku tersebut, menolak tesis Dake dengan alasan tidak logis karena Soekarno justru jatuh akibat G30S/PKI, seperti halnya Soeharto yang jatuh akibat Mei 1998. Namun, bisa juga diambil analogi bahwa kejatuhan Soeharto adalah konsekuensi skenario yang gagal dalam represi untuk menangkap mahasiswa dan tokoh oposisi seperti ingin mengulang Malari 74. Sayangnya (atau untungnya?) mahasiswa bukannya turun ke jalan melainkan justru menduduki Gedung MPR/DPR. Sesuatu yang mungkin jauh dari prediksi Pak Harto kala itu.
Saya juga pernah berjumpa dengan Pak Harto, walau tidak secara personal. Memang terlihat bahwa beliau adalah orang yang relatif baik, terlepas dari sikap politisnya yang banyak mengundang kritik. Saya rasa, Bung Karno pun juga demikian. Beliau tetap merupakan proklamator bangsa, pahlawan besar dengan kepribadian kuat dan sikap yang perlu diteladani. You all had my respects.
Saat ini saya masih menunggu kiriman buku itu dan belum membacanya. Tapi, apapun isi tulisan tersebut, seharusnya tidak perlu diperpanjang lagi kecuali sekedar sebagai bahan referensi saja. Kondisi negeri ini sudah cukup ricuh dan semrawut. Seharusnya kaum intelek seperti Dake mampu menghadirkan ketenangan dan mempercepat proses pemulihan bangsa ini, bukannya memperkeruh suasana sehingga menimbulkan gonjang-ganjing di dunia persilatan ini. Padahal, nyaris tidak ada dampak konkrit yang secara langsung dapat dinikmati oleh rakyat jelata.
Senjakala Kekuasaan - Akhir Kisah Ir. Soekarno
Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.
Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.
Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa-dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.
"Pak, Pak, ini Ega..."
Senyap.
Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.
Jelang Wafat
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.
Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.
Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.
"Hatta.., kau di sini..?"
Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.
"Ya, bagaimana keadaanmu, No?"
Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.
Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.
"Hoe gaat het met jou...?" Bagaimana keadaanmu?
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.
Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
No..."
Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.
Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.
Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.
Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.
Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.
Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.
Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal
bagian kedua
Berita kematian Bung Karno dengan cara yang amat menyedihkan menyebar ke seantero Pertiwi. Banyak orang percaya bahwa Bung Karno sesungguhnya dibunuh secara perlahan oleh rezim penguasa yang baru ini. Bangsa ini benar-benar berkabung. Putera Sang Fajar telah pergi dengan status tahanan rumah. Padahal dia merupakan salah satu proklamator kemerdekaan bangsa ini dan menghabiskan 25 tahun usia hidupnya mendekam dalam penjara penjajah kolonial Belanda demi kemerdekaan negerinya.
Anwari Doel Arnowo, seorang saksi sejarah yang hadir dari dekat saat prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar dalam salah satu milis menulis tentang kesaksiannya. Berikut adalah kesaksian dari Cak Doel Arnowo yang telah kami edit karena cukup panjang:
Pagi-pagi, 21 Juni 1970, saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ dan semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka sebenarnya. Yang jelas, semuanya bermuka murung. Ada yang matanya penuh airmata, tetapi bersinar dengan garang. Kelihatan roman muka yang marah. Ya, saya pun marah. Hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.
Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum, Bung Karno meminta agar dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat (asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu Tulis di Bogor).
Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula rezim Soeharto yang secara sepihak memutuskan jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar dengan dalih bahwa Blitar adalah kota kelahirannya. Ini benar-benar ceroboh. Bung Karno lahir di Surabaya di daerah Paras Besar, bukan di Blitar! Bung Karno terlahir dengan nama Koesno, dan ikut orang tuanya yang jabatan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang mengajar di sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di sisinya, isterinya (yang orang Bali ) bernama Ida Ayu Nyoman Rai.
Setelah matahari tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan jenazah Bung Karno akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak.
Tampak Komandan Upacara jenderal Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri berdesak-desakan di samping Bapak Kapolri Hoegeng Iman Santosa, yang sedang sibuk berbicara dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak mengganggu suara aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab singkat di kota Wlingi. Hah?! Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan rombongan ini sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, Utara kota Malang.
Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung dan sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: "There goes a very great man!!" Saya terharu mendengarnya. Apalagi ambulans (mobil jenazah) yang mengangkut Bung Karno terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti beliau. Saya lihat amat banyak manusia mengalir seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali.
Saya menuju ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalau pun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman atau makanan apa pun yang bisa ditelan. Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.
Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar.
Kuburannya Pun Tidak Boleh Dijenguk
Sejarah mencatat, sejak 1971 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi umum dan dijaga sepasukan tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta izin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan izin mengunjungi makam?
Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak pergi ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi izin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak terlalu ramah, mereka melayani dengan muka seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua beres dan kami mendapat sepucuk surat. Apa yang terjadi?
Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat izin dari KODIM. Surat itu kami tunjukan ke tentara yang jaga makam. Waktu tentara itu baca surat, saya terdorong untukmenoleh ke belakang. Terkejut saya. Selain rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar luar dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya memandang makamnya dari jarak, yang mungkin hanya sekitar tiga meter
Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa di antara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, membuat saya merasa risih.
Salah seorang dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di sekitar situ di udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat Marhaen kata Bung Karno! Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang Pemimpin mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara.
Dibunuh Perlahan
Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.
Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, yang tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya.
Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. "Bahkan untuk sekadar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, " demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita
bagian ketiga
Soekarno telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Ada sejarah yang belum terungkap dan masih diliputi kabut tebal misteri. Ada pula yang secara perlahan kian terang. Rezim Orde Baru pimpinan Presiden Jenderal Soeharto yang didukung Golkar sebagai mesin buldoser pendulang suara rakyat (saat itu tidak mau disebut partai politik) berkuasa selama 32 tahun. Negeri ini (katanya) tengah membangun, namun yang tak disadari oleh semua orang dananya ternyata dari hasil utang luar negeri.
Dengan tega, Soeharto pada November 1967 pun telah mengkavling-kavling wilayah NKRI menjadi bancakan bagi perusahaan-perusahaan asing multinasional. Belum lagi jutaan rakyat Indonesia tak bersalah yang telah dibunuh rezim ini dalam kebiadaban yang tidak terperikan.
Pada 27 Januari 2008, Soeharto telah menutup mata untuk selama-lamanya. Mantan orang nomor satu ini meninggal setelah diberi berbagai fasilitas canggih dari negara. Kontras sekali dengan kondisi ketika Presiden Soekarno wafat. Padahal jasa antara keduanya tak sebanding. Yang satu telah merelakan meringkuk selama 25 tahun di penjara Belanda hanya demi memerdekaan negerinya, sedangkan yang lain-mantan tentara KNIL, pelayan penjajah Belanda-malah merampok banyak kekayaan negeri ini selama puluhan tahun.
Hanya Korban Yang Berhak Memintakan Maaf
Yang menarik, saat Soeharto sakit dan kritis, banyak pihak meminta agar dosa-dosa dan kesalahan Soeharto diampuni dan dimaafkan. Padahal, semua yang meminta itu bukanlah korban politik dari Soeharto. Mereka tidak pernah menderita puluhan tahun dipenjara tanpa pengadilan oleh rezim Soeharto. Mereka tidak pernah kehilangan anggota keluarga gara-gara ditembak mati rezim Soeharto. Mereka tidak pernah mengalami kesulitan hidup puluhan tahun lamanya di masa rezim Soeharto. Tiba-tiba mereka dengan enteng dan enaknya minta agar rakyat Indonesia membukakan pintu maaf bagi orang yang oleh media Barat sendiri disebut sebagai Diktatur, Pinochet-nya Indonesia. Betapa naifnya hal ini!
Budiman Sudjatmiko, eks Ketua PRD yang kini bergiat di PDIP, pernah kesal dengan orang-orang dan kelompok yang tanpa tahu diri menghimbau agar Soeharto dimaafkan. "Hanya mereka, para korban rezim Orde Baru-lah yang berhak mengatakan itu!" tukasnya.
Ini sama saja dengan jutaan orang yang tengah dibantai dan disiksa oleh seorang penguasa, lalu setelah para korbannya bergelimpangan berdarah-darah bahkan banyak yang meninggal, tiba-tiba ada penonton yang sama sekali tidak diapa-apakan lalu berkata, "Wahai semuanya, maafkanlah penguasa itu, ampunilah dia..." Sungguh, benar-benar tidak lucu! Apapun alasannya.
Dosa-dosa Soeharto teramat banyak. Dan Soeharto tentu tidak memikulnya sendirian. Golkar sebagai mesin politik Soeharto, di mana para kroninya berkumpul, juga wajib bertanggungjawab. Jika para korban mereka telah memaafkan, ya itu lebih bersifat masing-masing. Tetapi kejahatan lainnya, perdata, KKN, HAM, dan sebagainya tetap harus diusut tuntas.
Gelar Pahlawan Orde Baru
Ada lagi wacana konyol yang disodorkan para kroni Soeharto agar orang ini diberi gelar Pahlawan Nasional. Ini benar-benar keterlaluan. Selesaikan dulu semua kasus hukum Soeharto, baru nanti dinilai apakah orang ini berhak menyandang gelar mulia itu atau tidak.
Yang paling pas bagi Soeharto mungkin gelar 'Pahlawan Orde baru', karena dia memang telah sangat berjasa bagi para kroninya sehingga sekarang ini masih saja tetap jaya dilingkaran pusat kekuasaan. Bahkan banyak media teve dan media cetak nasional yang sekarang dikuasai oleh para kroni Soeharto sehingga dalam pemberitaan kemarin Soeharto diimejkan sebagai seorang yang baik, dekat dengan rakyat, tak bersalah, bak pahlawan pembangunan, dan segala macam julukan lainnya.
Padahal di tahun 1965 sampai dengan 1969, jutaan rakyat Indonesia tidak bersalah telah dibunuh atas perintah darinya. Generasi muda sekarang, generasi MTV, memang tidak pernah tahu akan hal ini karena mereka telah teralienasi dari sejarah bangsanya sendiri. Mereka telah menjadi generasi yang ahistoris, yang tercerabut dari sejarah bangsanya yang selama 32 tahun terus-menerus digelapkan hingga sekarang.
Soekarno memang banyak pula kesalahannya. Tapi bagaimana pun Soekarno adalah orang besar. Namun beda sekali dengan penerusnya. Mudah-mudahan sejarah bangsa besar ini akan terbuka dan menjadi terang-benderang hingga anak-cucu kita bisa menilai dengan jernih mana yang harus ditiru dan mana yang harus dibuang. Amien.
SAKSI BISU
Ir. SOEKARNO
Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.
Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa-dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.
"Pak, Pak, ini Ega..."
Senyap.
Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.
Jelang Wafat
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.
Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.
Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.
"Hatta.., kau di sini..?"
Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.
"Ya, bagaimana keadaanmu, No?"
Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.
Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.
"Hoe gaat het met jou...?" Bagaimana keadaanmu?
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.
Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
No..."
Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.
Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.
Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.
Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.
Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.
Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.
Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal
bagian kedua
Berita kematian Bung Karno dengan cara yang amat menyedihkan menyebar ke seantero Pertiwi. Banyak orang percaya bahwa Bung Karno sesungguhnya dibunuh secara perlahan oleh rezim penguasa yang baru ini. Bangsa ini benar-benar berkabung. Putera Sang Fajar telah pergi dengan status tahanan rumah. Padahal dia merupakan salah satu proklamator kemerdekaan bangsa ini dan menghabiskan 25 tahun usia hidupnya mendekam dalam penjara penjajah kolonial Belanda demi kemerdekaan negerinya.
Anwari Doel Arnowo, seorang saksi sejarah yang hadir dari dekat saat prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar dalam salah satu milis menulis tentang kesaksiannya. Berikut adalah kesaksian dari Cak Doel Arnowo yang telah kami edit karena cukup panjang:
Pagi-pagi, 21 Juni 1970, saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ dan semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka sebenarnya. Yang jelas, semuanya bermuka murung. Ada yang matanya penuh airmata, tetapi bersinar dengan garang. Kelihatan roman muka yang marah. Ya, saya pun marah. Hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.
Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum, Bung Karno meminta agar dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat (asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu Tulis di Bogor).
Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula rezim Soeharto yang secara sepihak memutuskan jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar dengan dalih bahwa Blitar adalah kota kelahirannya. Ini benar-benar ceroboh. Bung Karno lahir di Surabaya di daerah Paras Besar, bukan di Blitar! Bung Karno terlahir dengan nama Koesno, dan ikut orang tuanya yang jabatan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang mengajar di sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di sisinya, isterinya (yang orang Bali ) bernama Ida Ayu Nyoman Rai.
Setelah matahari tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan jenazah Bung Karno akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak.
Tampak Komandan Upacara jenderal Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri berdesak-desakan di samping Bapak Kapolri Hoegeng Iman Santosa, yang sedang sibuk berbicara dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak mengganggu suara aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab singkat di kota Wlingi. Hah?! Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan rombongan ini sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, Utara kota Malang.
Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung dan sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: "There goes a very great man!!" Saya terharu mendengarnya. Apalagi ambulans (mobil jenazah) yang mengangkut Bung Karno terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti beliau. Saya lihat amat banyak manusia mengalir seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali.
Saya menuju ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalau pun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman atau makanan apa pun yang bisa ditelan. Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.
Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar.
Kuburannya Pun Tidak Boleh Dijenguk
Sejarah mencatat, sejak 1971 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi umum dan dijaga sepasukan tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta izin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan izin mengunjungi makam?
Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak pergi ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi izin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak terlalu ramah, mereka melayani dengan muka seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua beres dan kami mendapat sepucuk surat. Apa yang terjadi?
Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat izin dari KODIM. Surat itu kami tunjukan ke tentara yang jaga makam. Waktu tentara itu baca surat, saya terdorong untukmenoleh ke belakang. Terkejut saya. Selain rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar luar dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya memandang makamnya dari jarak, yang mungkin hanya sekitar tiga meter
Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa di antara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, membuat saya merasa risih.
Salah seorang dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di sekitar situ di udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat Marhaen kata Bung Karno! Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang Pemimpin mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara.
Dibunuh Perlahan
Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.
Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, yang tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya.
Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. "Bahkan untuk sekadar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, " demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita
bagian ketiga
Soekarno telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Ada sejarah yang belum terungkap dan masih diliputi kabut tebal misteri. Ada pula yang secara perlahan kian terang. Rezim Orde Baru pimpinan Presiden Jenderal Soeharto yang didukung Golkar sebagai mesin buldoser pendulang suara rakyat (saat itu tidak mau disebut partai politik) berkuasa selama 32 tahun. Negeri ini (katanya) tengah membangun, namun yang tak disadari oleh semua orang dananya ternyata dari hasil utang luar negeri.
Dengan tega, Soeharto pada November 1967 pun telah mengkavling-kavling wilayah NKRI menjadi bancakan bagi perusahaan-perusahaan asing multinasional. Belum lagi jutaan rakyat Indonesia tak bersalah yang telah dibunuh rezim ini dalam kebiadaban yang tidak terperikan.
Pada 27 Januari 2008, Soeharto telah menutup mata untuk selama-lamanya. Mantan orang nomor satu ini meninggal setelah diberi berbagai fasilitas canggih dari negara. Kontras sekali dengan kondisi ketika Presiden Soekarno wafat. Padahal jasa antara keduanya tak sebanding. Yang satu telah merelakan meringkuk selama 25 tahun di penjara Belanda hanya demi memerdekaan negerinya, sedangkan yang lain-mantan tentara KNIL, pelayan penjajah Belanda-malah merampok banyak kekayaan negeri ini selama puluhan tahun.
Hanya Korban Yang Berhak Memintakan Maaf
Yang menarik, saat Soeharto sakit dan kritis, banyak pihak meminta agar dosa-dosa dan kesalahan Soeharto diampuni dan dimaafkan. Padahal, semua yang meminta itu bukanlah korban politik dari Soeharto. Mereka tidak pernah menderita puluhan tahun dipenjara tanpa pengadilan oleh rezim Soeharto. Mereka tidak pernah kehilangan anggota keluarga gara-gara ditembak mati rezim Soeharto. Mereka tidak pernah mengalami kesulitan hidup puluhan tahun lamanya di masa rezim Soeharto. Tiba-tiba mereka dengan enteng dan enaknya minta agar rakyat Indonesia membukakan pintu maaf bagi orang yang oleh media Barat sendiri disebut sebagai Diktatur, Pinochet-nya Indonesia. Betapa naifnya hal ini!
Budiman Sudjatmiko, eks Ketua PRD yang kini bergiat di PDIP, pernah kesal dengan orang-orang dan kelompok yang tanpa tahu diri menghimbau agar Soeharto dimaafkan. "Hanya mereka, para korban rezim Orde Baru-lah yang berhak mengatakan itu!" tukasnya.
Ini sama saja dengan jutaan orang yang tengah dibantai dan disiksa oleh seorang penguasa, lalu setelah para korbannya bergelimpangan berdarah-darah bahkan banyak yang meninggal, tiba-tiba ada penonton yang sama sekali tidak diapa-apakan lalu berkata, "Wahai semuanya, maafkanlah penguasa itu, ampunilah dia..." Sungguh, benar-benar tidak lucu! Apapun alasannya.
Dosa-dosa Soeharto teramat banyak. Dan Soeharto tentu tidak memikulnya sendirian. Golkar sebagai mesin politik Soeharto, di mana para kroninya berkumpul, juga wajib bertanggungjawab. Jika para korban mereka telah memaafkan, ya itu lebih bersifat masing-masing. Tetapi kejahatan lainnya, perdata, KKN, HAM, dan sebagainya tetap harus diusut tuntas.
Gelar Pahlawan Orde Baru
Ada lagi wacana konyol yang disodorkan para kroni Soeharto agar orang ini diberi gelar Pahlawan Nasional. Ini benar-benar keterlaluan. Selesaikan dulu semua kasus hukum Soeharto, baru nanti dinilai apakah orang ini berhak menyandang gelar mulia itu atau tidak.
Yang paling pas bagi Soeharto mungkin gelar 'Pahlawan Orde baru', karena dia memang telah sangat berjasa bagi para kroninya sehingga sekarang ini masih saja tetap jaya dilingkaran pusat kekuasaan. Bahkan banyak media teve dan media cetak nasional yang sekarang dikuasai oleh para kroni Soeharto sehingga dalam pemberitaan kemarin Soeharto diimejkan sebagai seorang yang baik, dekat dengan rakyat, tak bersalah, bak pahlawan pembangunan, dan segala macam julukan lainnya.
Padahal di tahun 1965 sampai dengan 1969, jutaan rakyat Indonesia tidak bersalah telah dibunuh atas perintah darinya. Generasi muda sekarang, generasi MTV, memang tidak pernah tahu akan hal ini karena mereka telah teralienasi dari sejarah bangsanya sendiri. Mereka telah menjadi generasi yang ahistoris, yang tercerabut dari sejarah bangsanya yang selama 32 tahun terus-menerus digelapkan hingga sekarang.
Soekarno memang banyak pula kesalahannya. Tapi bagaimana pun Soekarno adalah orang besar. Namun beda sekali dengan penerusnya. Mudah-mudahan sejarah bangsa besar ini akan terbuka dan menjadi terang-benderang hingga anak-cucu kita bisa menilai dengan jernih mana yang harus ditiru dan mana yang harus dibuang. Amien.
SAKSI BISU
Ir. SOEKARNO
Langganan:
Postingan (Atom)

