Senin, 20 September 2010

“BERDIKARI”

“BERDIKARI”


‘Berdikari.’ Mungkin tidak asing lagi kita mengenal istilah itu. Ya... itu memang salah satu ideologi pembangunan ‘berdiri di atas kaki sendiri’ yang dianut oleh Bung Karno di masa pemerintahannya dulu. Siapa yang berani menentang Amerika Serikat? Siapa yang berani menolak negara adikuasa?


Soekarno-lah, salah satu tokoh yang gagahnya menentang, bahkan mengejek atas tawaran pemberian bantuan dari Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis lainnya. “Go to hell with your aid.”


“Persetan dengan bantuanmu.” Seperti itulah (mungkin) peng-Indonesia-an umpatan Bung Karno tersebut. Memang, pada akhirnya Bung Karno cenderung lebih ‘condong’ ke Blok Timur (Komunis) yang dikendalikan Uni Soviet dan RRC.


Ia memang belum berhasil dalam bidang pembangunan ekonomi untuk membawa rakyatnya dalam kehidupan sejahtera, adil makmur. Namun, berkat perannya pulalah semangat revolusi bagi bangsanya yang bisa menjaga keutuhan NKRI, terus bergelora.



Ideologi pembangunan yang dianut pria yang berasal dari keturunan bangsawan Jawa dan suku Bali ini sedikit banyak menganut ideologi pembangunan yang dilahirkan kaum ekonom “merah.” Bagi kaum “merah,’ tidak ada istilah membangun suatu negeri melalui dengan ‘mengemis’ bantuan pihak asing. Bersentuhan dengan negara Barat yang kaya, apalagi sampai meminta bantuan, justru mencelakakan si melarat (negara miskin).


Pandangan Bung Karno, yang ketika kecil bernama Kusno, tampaknya tak ada kisah manis bagi negara-negara miskin yang membangun dengan modal asing dan bantuan Barat. Semua tetek bengekmanajemen pembangunan yang diperbantukan dan arus teknologi modern yang dialihkan --agar si miskin jadi kaya dan mengejar Barat-- hanyalah alat pengisap kekayaan si miskin yang membuatnya makin terbelakang.


Itulah Bung Karno yang berhasil menggelorakan semangat revolusi dan mengajak berdiri di atas kaki sendiri bagi bangsanya, tapi belum berhasil membawa rakyatnya dalam kehidupan sejahtera.


Masa kecil Bung Karno memang sudah diisi semangat kemandirian. Ia hanya beberapa tahun hidup bersama orang tua di Blitar. Semasa SD hingga tamat, ia tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjut di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu ia pun telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, ia pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.

Kemudian, ia merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, si penjajah, menjebloskannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, dengan gagah berani ia menelanjangi kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.


Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Selelah bebas (1931), Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, ia kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.


Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.


Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik sangat hebat. Ia pun tak mau membubarkan PKI yang dituduh oleh mahasiswa dan TNI sebagai dalang kekejaman membunuh para jenderal itu. Suasana politik makin kacau. Sehingga pada 11 Maret 1966 ia mengeluarkan surat perintah kepada Soeharto untuk mengendalikan situasi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Supersemar. Tapi, inilah awal kejatuhannya. Sebab Soeharto menggunakan Supersemar itu membubarkan PKI dan merebut simpati para politisi dan mahasiswa. MPR mengukuhkan Supersemar itu dan menolak pertanggungjawaban Soekarno serta mengangkat Soeharto sebgai Pejabat Presiden.

Kemudian Bung Karno ‘dipenjarakan’ di Wisma Yaso, Jakarta. Kesehatannya terus memburuk. Akhirnya, pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Paduka Yang Mulia Pemimpin Revolusi ini meninggalkan 8 orang anak. Dari Fatmawati; Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari Hartini: Taufan dan Bayu, dan dari Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto; Kartika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar